TRADISI SEBA OLEH MASYARAKAT SUKU BADUY KE PEMDA KAB. LEBAK & DISBUDPAR PROV. BANTEN


Seba Baduy

 

Rangkasbitung Lebak (04/05/2014) – Ratusan masyarakat Baduy, Banten kembali menggelar tradisi tahunan, Seba. Tahun ini, tradisi mengunjungi pimpinan adat atau daerah itu dilakukan pada awal Mei.

Bagi masyarakat Baduy Dalam, mereka harus berjalan kaki. Sementara Baduy Luar, menggunakan kendaraan roda empat. Tentu masyarakat Baduy Luar tiba lebih dulu tiba di Pendopo Kabupaten Lebak pada Jumat 2 April kemarin, sekitar pukul 19.45 WIB.

Masyarakat Baduy sempat terlantar, tanpa ada sambutan dari pihak Pemerintah Kabupaten Lebak. Mereka harus menunggu hampir 1 jam sebelum akhirnya diperkenankan masuk ke dalam pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak.

Masyarakat Baduy akhirnya diperkenankan memasuki pendopo. Mereka disambut langsung Bupati Lebak Iti Jayabaya. Dialog pun digelar. Mereka menyampaikan keluh kesah dan harapannya kepada sang bupati yang baru saja menjabat hampir 5 bulan itu.

“Supaya menjaga kearifan lokal. Kami sebaga lembaga adat, sebagai masyarakat, mudah-mudahan Ibu Bupati yang baru bisa menjalin kasih dan silaturahmi,” kata Ayah Mursid, tokoh adat masyarakat Baduy Dalam usai diterima Iti Jayabaya.

Masyarakat Baduy yang terbiasa hidup sederhana, menyampaikan harapan yang sederhana pula. Mereka hanya berharap kepada pimpinannya itu memberikan bantuan pembangunan fasilitas mandi cuci kakus (MCK).

“Seiring dengan perkembangan budaya, jadi harus ada nilai-nilai penyesuaian itu semua. Semua ingin hidup bersih dan sehat,” ujar Ayah Mursid.

Gayung bersambut. Iti Jayabaya berjanji akan lebih memperhatikan kebersihan dan kesehatan masyarakat di Kabupaten Lebak, terutama suku Baduy. “Kita baru memiliki 42 puskesmas. Masih jauh dari kepentingan masyarakat. Apalagi jika dlihat dari kesejahteraan.”

“Setiap tahun akan kita anggarkan puskesmas rawat inap. Setiap 3 desa ada puskesmas rawat inap. Ada juga peningkatan gizi bagi masyarakat,” terang Iti Jayabaya di ruangannya.

Selain itu, sang Bupati juga memberikan bantuan bahan makanan, berupa beras sebanyak 10 kilogram. Bantuan itu akan diberikan setiap 3 bulan kepada masyarakat Lebak yang menderita cacat permanen.

Tak hanya itu, masyarakat Baduy yang bermalam di Pendopo Kabupaten Lebak itu juga disuguhi hiburan layar tancap. Ini sudah tradisi setiap tahunnya.

Nilai Kejujuran dan Kebersamaan

Di mata Iti Jayabaya, seba merupakan tradisi masyarakat Baduy yang menunjukkan kebersamaan dan persatuan. Maka itu, budaya ini harus dilestarikan agar tidak punah.

“Seba Baduy merupakan bentuk kebersamaan dan kebersatuan dengan masyarakat Baduy. Ini juga menunjukkan kesatuan dengan pembangunan masyarakat Baduy,” kata Iti Jayabaya di ruangannya, sesaat sebelum menerima Suku Baduy.

Bupati yang baru dilantik pada Desember 2013 lalu itu mengatakan, banyak pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan masyarakat Baduy. Misalnya saja, tentang nilai kejujuran. “Kita harus belajar kepada mereka soal kejujuran,” ujarnya.

Iti Jayabaya juga berharap agar semua pihak, termasuk masyarakat Baduy dapat ikut serta mempercepat pembangunan di kabupaten yang belakangan dikaitkan dengan kasus suap sengket Pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

“Ini juga sebuah budaya dan kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan. Mereka menjaga dan melestarikan hutan, kita harus belajar kepada mereka menjaga alam,” lanjut Iti Jayabaya.

Seba Baduy tahun ini, masyarakat Baduy memberikan hasil buminya kepada Iti Jayabaya sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Sekaligus berguna untuk mempererat tali silaturahmi masyarakat baduy dengan pemerintah.

“Saran-sarannya nanti akan kita masukkan ke agenda pembangunan,” ujar Iti Jayabaya.

Cap Jempol

Setalah mengunjungi Bupati Lebak, hari berikutnya masyarakat Baduy melanjutkan perjalanan menuju Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten, yang berlokasi di kawasan pusat pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang.

Seperti sebelumnya, masyarakat Baduy Luar datang lebih awal menggunakan kendaraan roda empat. Sedangkan, masyarakat Baduy Dalam masih dalam perjalanan lantaran harus berjalan kaki dari Pendopo Kabupaten Lebak meskipun berangkat lebih awal, pukul 05.00 WIB. Sedangkan suku Baduy Luar berangkat berangkat pada pukul 07.00 WIB, Sabtu (3/5/2014).

Saat masyarakat Baduy tiba, pihak Disbudpar pun mendata. Pendataan ini berbeda dengan acara pada umumnya, yang biasanya mengisi buku tamu dengan nama dan tanda tangan. Masyarakat Baduy cukup menggunakan tanda cap jempol.

“Kita data dulu biar tahu ada berapa orangnya. Biar enak kita ngasih makannya,” ujar Rohendi, panitia acara Seba Baduy dari Disbudpar Provinsi Banten di sela-sela acara.

Pembubuhan cap jempol ini lantaran masyarakat Baduy umumnya tidak bisa baca dan tulis. Bahkan untuk penulisan nama dan alamat lengkapnya, Disbudpar sudah menyiapkan panitia khusus yang mengurus pendataan.

“Kumpul dulu di sini, istirahat dulu di sini. Nanti pukul 15.00 WIB baru jalan ke pendopo lama. Puncak acaranya di sana,” jelas Rohendi.

Jalan Kaki 180 Kilometer

Sebagian masyarakat Suku Baduy Dalam yang sudah menempuh perjalanan dalam tradisi seba, mengalami luka di kaki dan keluhan kesehatan akibat kelelahan. Mereka berjalan kaki dari Desa Ciboleger, Kabupaten Lebak, menuju Kota Serang.

Untuk mencapai Kota Serang, mereka harus melalui beberapa wilayah kabupaten yakni Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Serang. Sejauh 180 kilometer mereka lalui atau selama 2 hari berturut-turut.

“Kena paku, kena tumbuh-tumbuhanan, kena beling (pecahan kaca), kena akar-akaran. Kita bersihin dulu, luka nya yang dalem ditutup. Dikasih anti biotik juga,” terang Silvi Ari, tenaga medis yang berjaga di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Provinsi Banten.

Pemerintah Provinsi Banten menyiagakan 2 mobil ambulans dan 4 tenaga medis dari Dinas Kesehatan, guna mengobati masyarakat Suku Baduy jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

“Pengobatan awal aja biar nggak infeksi. Yang luka sekitar ada 10 (orang), ada juga yang dateng minta obat pusing. Sakit kepala, sakit perut, sama luka laki,” jelas Silvi seraya mengobati seorang warga Suku Baduy yang terluka kakinya.

Jika Suku Baduy Luar tiba sekitar pukul 09.00 WIB menggunakan mobil dari Pendopo Pemerintahan Kabupaten Lebak, Suku Baduy Dalam lebih memilih tradisinya dengan berjalan kaki. Sehingga tiba di Disbudpar Provinsi Banten pukul 11.00 WIB.

“Ada 1.120 warga Baduy yang dibawa,” ujar Daina, Jaro atau sebutan seorang kepala desa Suku Baduy, di sela-sela waktu istirahatnya.

Penyucian

Setelah tiba di Pendopo Lama Gubernur Banten siang tadi, kini masyarakat Suku Baduy Dalam maupun Baduy Luar tiba giliran melakukan ritual penyucian di Sungai Cibanten. Sungai yang kini sudah terlihat keruh itu terletak persis di belakang gedung Pendopo Lama Gubernur Banten, Kota Serang.

“Itu mandi dan berdoa aja, sebagai bentuk rasa syukur sekaligus menyucikan diri udah sampai di Serang. Semua bersih-bersih, tapi khususnya yang baru ikut seba,” ujar Ayah Mursyid, tokoh adat Suku Baduy Dalam di sela-sela ritual di Sungai Cibanten.

Ritual bersih-bersih di sungai Cibanten ini sudah dilakukan sejak suku Baduy melakukan seba pertama kalinya. Bentuk bersih-bersih itu mirip dengan wudu umat muslim sebelum melaksanakan salat. “Udah dari dulu, emang udah tradisi. Yang lama mimpin doa. Minimal bersih-bersih muka, kaki, tangan,” pungkas Ayah Mursyid.

Sungai Cibanten merupakan sungai lintas Kabupaten atau Kota dengan hulu berpangkal di Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Sungai yang memiliki panjang sekitar 35,89 kilometer itu melintasi Kabupaten Serang. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibanten umumnya digunakan sebagai lahan pertanian, permukiman, perkotaan hingga perindustrian.

Silaturahmi

Warga Baduy yang menetap di lereng pegunungan Kendeng, Banten bagian selatan, menyebut tradisi tahunan itu sebagai Seba. Saba berasal dari bahasa Sunda yang berarti berpergian untuk bersilaturahmi. Seba adalah tradisi tua. Sama tuanya dengan keberadaan masyarakat Baduy.

Seba pun terbagi dua. Seba Kecil dan Seba Besar. Seba Kecil tak mengharuskan warga ke luar desa, tapi cukup di lingkaran perkampungan Baduy. Sementara, Seba Besar berdasarkan aturan adat, wajib hukumnya untuk pergi keluar desa menemui pemimpin wilayah Banten.

Butuh persiapan fisik yang matang untuk menjalani ritual Seba, khususnya bagi warga Baduy Dalam. Tak seperti Baduy Luar yang boleh menumpang kendaraan bermotor, orang Baduy Dalam harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki tanpa alas. Mereka menunggu matahari terbit. Bangun pagi untuk berjalan kaki lebih dari 3 hari.

Warga Baduy Dalam tak ingin membuang waktu. Bagi mereka, tak ada kesempatan untuk berleha-leha. Mereka mesti bergegas selama perjalanan. Sedikit saja kesiangan, bisa terlambat sampai di Lebak, kabupaten terdekat sebelum sampai tujuan akhir di Serang, Ibukota Provinsi Banten.

Perkampungan Baduy dan Lebak dapat ditempuh sekitar 1,5 jam menggunakan kendaraan bermotor. Tapi masyarakat Baduy Dalam adalah komunitas elite. Pasukan khusus yang menjadi barisan terakhir aturan adat. Pantang bagi mereka ke mana pun naik kendaraan jenis apa pun.

Bedanya, saat matahari meninggi, giliran Baduy Luar bersiap diri. Mereka tak perlu tergesa-gesa, karena hukum adat membolehkan naik kendaraan menuju Lebak. Banyak orang menganggap masyarakat Baduy Dalam sakti, lantaran kuat berjalan jarak jauh. Padahal ilmu mereka sederhana, istirahat jika sudah kelelahan.

Ada prosesi yang wajib dilakukan Baduy Dalam ketika Seba, yaitu mandi dan berdoa di Sungai Cikolear, sungai yang diyakini sebagai warisan leluhur Baduy. Berjalan kaki atau naik mobil, Baduy Dalam atau Baduy Luar, di mata adat peran mereka sama pentingnya dalam ritual Seba. Sebab sejatinya, Baduy adalah satu, sekumpulan kaum pertapa yang bertugas menjaga keseimbangan alam jagad raya.

Tiap Seba tiba, malam di Lebak berubah menjadi malam layar tancap. Setiba di Serang, warga Baduy memencar. Bagi mereka, kota adalah rimba yang tak asing meski juga tidak akrab. Sebab, warga Baduy percaya, tempat mereka hanya di Desa Kanekes.

Sebenarnya, inti Seba adalah silaturahmi masyarakat Baduy kepada pemimpin daerah dengan menyerahkan laksa, intisari padi hasil panen seluruh warga Baduy yang disatukan dan dikeringkan. Laksa adalah simbol utuhnya keluarga Baduy. Bila laksa sudah diserahkan dan disantap pemimpin daerah, itu artinya seluruh jiwa dan harapan warga Baduy telah diberikan secara resmi.

Abah Gede

Wakil Gubernur Rano Karno selaku Abah Gede berharap agar tradisi Seba bisa semakin memperkiat hubungan antara masyarakat Baduy dengan Pemerintah Provinsi Banten.

“Kita akan berusaha sekuat mungkin untuk menjaga alam dari kerusakan-kerusakan yang tidak diinginkan. Kita ambil hikmah dari kesederhanaan ini. Hidup sejahtera dari alam. Kita bisa hidup dengan alam, sehingga tidak mengeksploitasi alam berlebihan,” ujar Rano.

Sedangkan saat terjadi dialog antara suku Baduy dengan Rano Karno, tidak banyak terjadi perbincangan. Masyarakat Baduy yang diwakili oleh Jaro (kepala desa) Daina menganggap bahwa semuanya sudah cukup terjembatani oleh sang Abah Gede.

“Selain ada Gusti Nu Agung (Tuhan Yang Maha Besar), di setiap tempat itu ada karuhun (ruh suci), jadi harus dihormati,” kata Jaro Daina kepada Rano Karno.

Di akhir acara Seba, Rano Karno memberikan simbol wayang kepada dalang wayang golek untuk menghibur warga Baduy. “Harapan Baduy itu logikal. Kalau Baduy rusak yang rugi hanya bukan Baduy saja, tapi semuanya,” terang Rano.

Ia pun berjanji akan meratakan pembangunan di tanah Banten, termasuk pembangunan di wilayah Baduy. Karena dirinya merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat Baduy. Rano sendiri pernah hidup beberapa hari di dalam Suku Baduy Dalam.

“Baduy ini kan khusus, yang memang harus diatur secara khusus. Pemda hanya mem-back up agar tidak meledak populasinya,” kata Rano.

Rano yang berpangkat Abah Gede, gelar dari Suku Baduy ini mengatakan bahwa dirinya merasa bangga bisa memimpin Seba Baduy pertama kali sebagai Abah Gede. Tapi, ia merasa bahwa ada yang kurang dari pelaksanaan Seba Baduy.

“Harus menjadi budaya nasional dan internasional. Saya tidak menganggap tidak baik, tapi belum maksimal dikemasnya. Karena orang Jakarta dan orang yang jauh belum tahu Seba. Sangat sayang kegiatan ini tidak dieksploitasi. Mungkin tahun depan akan saya undang dubes dan saya bawa ke event internasional,” pungkas Rano.

Sumber : Liputan6.com

Download artikelnya dengan klik 10 PERTANYAAN TENTANG SUKU BADUY

Iklan

About Al Hudri, S.Pd.I

I'm a Teacher

Posted on 4 Mei 2014, in Ilmu Pengetahuan Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silakan Berkomentar dengan Facebook/Twitter/Wordpress/Google+

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: