SEMINAR KADERISASI ULAMA


IMG_5556

SEMINAR SEHARI TIM PROGRAM KADERISASI  ULAMA(PKU) UNIDA GONTOR

Kerjasama 

Universitas Daarussalam Gontor dan Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro Rangkasbitung

Rangkasbitung – Universitas Daarussalam Gontor dan Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro Rangkasbitung mengadakan Seminar Sehari dengan tema “Pemikiran Islam” tim Program  Kaderisasi Ulama (PKU) oleh Dr. Setiawan bin Lahuri, MM sebagai pembicaranya. “Bangga bisa sheer di La Tansa karena ini merupakan Program PKU untuk memberikan pencerahan tentang pemikiran Islam. Terdapat minimal 2 tugas Ulama yang harus dijalankan yaitu menjaga umat dan menjaga aqidah Islam yang berfungsi ‘amar ma’ruf nahi munkar.

Seperti yang banyak kita ketahui sekarang banyaknya ulama seleb yang mereka dibesarkan melalui media televisi yang kemudian tidak semua ulama seleb tersebut mampu menyelesaikan permasalahan umat dengan baik. Popularitaslah yang diincar dan tarif tinggi yang jadi patokan untuk mengisi barang satu atau dua jam. Para ulama seleb tidak mengetahui yang diomongkan apakah hadits yang shahih atau dusta, atau apakah yang disampaikan pada audience adalah kisah-kisah yang valid atau tidak ada asal-usulnya. Wallahul musta’an. PKU UNIDA Gontor hadir untuk menyiapkan dan mengkader ulama agar bisa berkiprah dimasyarakat, karena godaan besar ulama adalah kekuasaan.Dalam ajaran Islam, ulama mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan peran yang maha penting dalam kehidupan umat, agama, dan bangsa. Secara garis besar, peran itu berupa tugas pencerahan bagi umat manusia sesuai dengan kedudukannya sebagai para pewaris Nabi (waratsatul anbiya’) (Q.S. al-Jumu’ah: 2). Peran itu biasa disebut dengan ‘amar ma’ruf nahi munkar. Sedang rinciannya adalah tugas untuk: (a) mendidik umat di bidang agama dan lainnya, (b) melakukan kontrol terhadap masyarakat, (c) memecahkan problem yang terjadi di masyarakat, (d) menjadi agen perubahan sosial. Kesemua tugas itu, akan berusaha dijalankan oleh para ulama’ sepanjang hidupnya, meski jalur yang ditempuh berbeda (Masykuri Abdillah, 1999). jadi PKU UNIDA Gontor memberikan pencerahan  pemikiran Islam terutama banyaknya aliran Islam yang salah bahkan menyesatkan. Adapun program besar PKU UNIDA Gontor adalah Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang ditujukan untuk kemaslahatan umat”. Ujar Dr. Setiawan.

Tiga pembicara yang mengisi workshop di Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro dari pukul 09.00 WIB berbicara tentang PKBG (Pendidikan Keluarga Berbasis Gender), Fenimisme, dan Wanita dalam Perspektif Syi’ah. Saiful Anwar dengan Problem konsep PKBG yang menurutnya pendidikan kelurga merupakan posisi central yang menentukan watak atau kepribadian mental. Saiful mengungkap adanya upaya kaum feminis untuk memasukkan paham-paham feminisme atau kesetaraan gender dalam ruang lingkup keluarga. Paham ini menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan, baik hak maupun kewajiban. Menurut Saiful, jika paham ini sampai diadopsi sebuah keluarga, maka tunggulah kehancuran keluarga tersebut. Namun Dr. Setiawan bin Lahuri ,MA menanggapi pertanyaan mahasiswa dalam kesetaraan gender menambahkan bahwa Konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam didasarkan atas nilai keadilan dari Al-Qur’an dan Hadits. Islam memandang laki-laki dan perempuan mempunyai kualitas kemanusiaan yang sama termasuk di dalamnya kesempatan aktualisasi melalui pendidikan Islam. Kesetaraan gender dalam konsep pendidikan Islam dapat diwujudkan dalam bentuk konsep pendidikan Islam yang meliputi pengertian, tujuan, dasar, materi dan metode, yang dirumuskan secara berprespektif gender sebagai mana yang diisyaratkan oleh Islam. Pendidikan memberikan akses dan kontrol yang sama antara laki-laki dan perempuan, mengacu pada pemenuhan kebutuhan praktis dan strategis gender dan menghindari diskriminasi seksis.

Pembicara ke-dua, Mahmud Budi Setiawan, mengkritisi sikap kaum feminis. Kaum feminis adalah gerakan yang memperjuangkan kesetaraan gender diberbagai lapisan. Hadis dalam Islam menduduki posisi penting ke-2 sebagai pedoman umat Islam, jika dikaji oleh kaum feminisme apapun hadis yang tidak memuat kesetaraan gender maka hadis tersebut ditolak walaupun soheh.  Mahmud pun berkomentar  tentang adanya hadis-hadis misoginis atau hadis-hadis yang bernada menyudutkan kaum perempuan dalam feminisme. Kenyataannya, para ulama hadis telah menjelaskan bahwa hadis-hadis tersebut sama sekali tidak menyudutkan atau merendahkan kaum perempuan jika dipahami secara proporsional dan kontekstual. Jika dipahami secara tekstual dan dangkal akan memberikan pemahaman yang bertentangan dengan sikap atau akhlak Nabi Muhammad Saw yang menghormati kaum wanita. Dan ciri-ciri kaum feminisme adalah pemahamnnya diwarnai pandangan feminis, tidak konsisten, tidak komprehensif, tidak otoritas, menolak hadis soheh. Maka cara mengkaji hadis yang benar adalah dengan mengkaji sesuai cara pandang Islam, menguasai ilmu hadis, memahami hadis secara komprehensif, menghargai otoritas atau keahlian ulama, dan menjaga adab atau etika pada ulama.

Pembicara ke-tiga, Harisman menyikapi wanita dalam perspektif Syi’ah. Kata Syiah berasal dari bahasa Arab yang artinya pengikut, juga mengandung makna pendukung dan pecinta, juga dapat diartikan kelompok. Syi’ah mengalami perkembangan dan bahkan perpecahan, terutama ketika imam mereka meninggla dunia. Dan semakin jauh perpecahan mereka, semakin banyak pula ajaran dan faham baru, diman tidak jarang ajaran Syi’ah dalam satu periode bertentngan dengan ajaran mereka pada periode sebelumnya. Karen setiap imam memberikan ajaran, dimana perkataan imam bagi Syi’ah adalah hadis sama dengan sabda Rasulullah saw, bahkan ada yang beranggapan perkataan imam adalah sama dengan perkataan Allah, maka perpecahan Syi’ah dari masa kemasa semakin banyak sehingga menurut al-Muqrizy bahwa jumlah firqah syi’ah mencapai 300 firqah. (http://ajigoahead.blogspot.com/2012/11/pengertian-syiah.html). Syi’ah memandang wanita sebelah mata, menurut Syi’ah bahwa menstruasi yang dialami wanita adalah sebagai standar kurangnya keimanan wanita, wanita dilarang mengenyam pendidikan dalam Islam, wanita dilarang mengakses pendidikan Islam dan umum, dan wanita tidak memiliki hak waris. Sungguh pemikiran yang sangat menyesatkan, padahal Islam yang sesungguhnya adalah sangat memulaikan dan menghormati wanita dan dalam hukumnya bahwa wanita itu harus dipergauli dengan baik. Tetapi syi’ah dalam memandang kehormatan wanita sangat rendah bahkan hina, hanya menganggap wanita itu sebagai hamba sahaya, status wanita sebagai mainan bagi laki-laki, dan wanita mut’ah adalah wanita upahan.

Maka kesimpulannya adalah agar kita tidak tersesat dalam contoh-contoh pemikiran diatas hendaklah mengkaji Al-Qur’an dan hadis secara benar.

Seminar ini sangat diapresiasi oleh ketua Koordinator La Tansa Mashiro Rangkasbitung yakni Dr. H. Soleh Rosyad, MM, dengan memberikan sambutan bahwa “saya mengapresiasi kegiatan ini dan Insyaallah ini menjadi inspirasi bagi kami semua khususnya yang ada di La Tansa Mashiro, dan saya berkeinginan La Tansa Mashiro juga mampu berperan aktif di masyarakat luas sesuai dengan Tri Darma Perguruan Tinggi”. Semoga keinginan Bpk H. Soleh tercapai dan kami segenap dosen dan staff mendukung untuk  La Tansa selanjutnya semakin baik dan terdepan.

Iklan

About Al Hudri, S.Pd.I

I'm a Teacher

Posted on 9 Maret 2015, in Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro Rangkasbitung. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Silakan Berkomentar dengan Facebook/Twitter/Wordpress/Google+

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: